Hidup Sehat

Published on October 8th, 2017 | by khaeruddin

0

Dampak Mengorok Yang Perlu Anda Ketahui?

Tahukah anda bahwa angka kejadian gagal jantung di USA mencapai 4,8 juta orang dalam 500.000 kasus pertahun? Gagal jantung masih menjadi masalah kesehatan diseluruh dunia termasuk Indonesia. Biaya kesehatan kasus gagal jantung sangatlah besar dan juga angka kematian yang tinggi. Kelainan tidur atau gangguan tidur adalah salah satu faktor pemicu munculnya masalah gagal jantung belum lagi Kelainan tidur masih sering dianggap remeh dan kurang mendapat perhatian sehingga masih dianggap hal yang wajar-wajar saja. Pada kesempatan ini saya akan mencoba mengangkat tema salah satu jenis gangguan tidur yaitu Obsructive sleep apnea (OSA).

Ciri OSA yang paling mudah adalah mengorok. Mengorok pada OSA bisa terjadi karena adanya sumbatan jalan nafas, bisa berupa sumbatan parsial atau sumbatan total yang menyebabkan terjadinya henti nafas. Jika terjadi sumbatan nafas akan mengakibatkan timbulnya usaha nafas sebagai reaksi untuk mengatasi sumbatan nafas dan konsekuensinya sangat menganggu proses tidur. Proses sumbatan yang terjadi berulang dapat dinilai dengan menghitung apnea hipoapnea index (AHI). Penilaian AHI dengan pemeriksaan polisomnografi membantu menilai derajat gangguan pada OSA.  Hasil konsensul saat ini dianggap OSA jika ditemukan nilai AHI lebih besar dari 5 dan dianggap berat bila lebih dari 30.

            Kualitas tidur yang terganggu dapat menimbulkan keluhan rasa lelah dan mengantuk yang menganggu disiang hari dan menyebabkan timbulnya bermacam persoalan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, kematian mendadak, stroke, gagal jantung dan masih banyak persoalan kesehatan lainnya.

Data penelitian hubungan OSA dengan penyakit jantung yang melibatkan 6424 pasien ditemukan bahwa pasien OSA dengan AHI >11 memiliki resiko 2,38 kali lebih mengalami gagal jantung.

Mekanisme hubungan OSA dengan penyakit kardiovaskular akibat adanya upaya pernapasan akibat adanya sumbatan jalan nafas dan menyebabkan tekanan negatif intratorakal yang tinggi. Hal ini tercapai melalui upaya nafas / kerja otot pernafasan yang lebih berat. Gejala Klinis Secara klinis mekanisme yang mendasari OSA dapat mengakibatkan tekanan darah tidak turun dimalam hari, hipertensi yang resisten terhadap obat, takikardia yang dapat dengan mudah timbul akibat aktivitas simpatik, atau rendahnya detak jantung (bradikardia) akibat aktivitas vagal jantung. Desaturasi oksigen yang berat saat obstruksi jalan nafas dapat mengakibatkan munculnya gangguan irama jantung seperti ventricular extrasystole, sinus aritmia, blok atrioventrikular, fibrilasi atirum yang seiring waktu dapat terus bertambah berat dan menetap. Gejala OSA yang paling umum dikeluhkan pasien adalah lelah saat terbangun dari tidur dan rasa kantuk berlebihan / hipersomnolen disiang hari berupa keluhan jatuh tertidur saat aktivitas sehari-hari seperti membaca, berbicara, makan, dan bahkan saat mengendarai kendaraan. Gejala yang cukup penting pada OSA adalah terhentinya nafas saat tidur, dan hal ini dapat disaksikan oleh pasangan atau orang dekat pasien dimana pesien dengan OSA umumnya akan mengorok, diikuti nafas yang berhenti sesaat. Pada saat inilah otak akan bereaksi atas obstruksi yang timbul dan memberikan rangsang bangun sehingga derajat tidur akan menurun, posisi tidur berubah, dan obstruksi dapat dihilangkan. Bagi orang yang melihatnya penderita dengan OSA akan tampak gelisah saat tidur, kadang seperti tersedak (choking) atau bahkan menyikut pasangan tidurnya. Pada pertemuan tahunan  American College of Chest Physicians 2012, disebutkan bahwa dari 124 orang terdiagnosa OSA di laboratorium tidur, sebanyak 84% pernah menyikut pasangan tidurnya. Menurunnya kadar oksigen darah yang timbul akibat proses obstruksi ini memicu periode bernafas cepat sebagai kompensasi, sehingga nafas pasien tampak terengah-engah saat tidur. Penurunan kadar oksigen dan pola nafas yang berubah-ubah kadang lambat (decresendo) dan cepat (cresendo) ini dapat memicu timbulnya nyeri kepala dimalam hari atau pagi harinya, mulut atau tenggorokan yang kering dipagi hari,gastroephageal acid reflux, dan sering kencing di malam hari. Gangguan kognitif / pola pikir, ingatan, perubahan psikologis & perilaku dapat pula terjadi pada OSA yang berat. Siapa yang Rentan?Prevalensi OSA di negara maju tidak diketahui secara pasti karena kebanyakan orang dengan OSA tidak menjalani pemeriksaan Polisomnografi dan tetap tidak terdiagnosa. Di Indonesia OSA bisa jadi merupakan suatu permasalahan kesehatan yang dilupakan karena pemeriksaan polisomnografi tidak umum tersedia di RS Indonesia. Obstructive Sleep Apnea diketahui sangat berhubungan erat dengan obesitas, dan terdapat hubungan langsung antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan beratnya OSA (index AHI).Cara mengukur IMT adalah Berat(kg)/ Tinggi(m)2 dan nilai normalnya adalah 18.5-24.9 kg/m2. Studi populasi menemukan bahwa OSA ditemukan pada 1 dari 5 orang atau 20% orang dewasa dengan IMTantara 25 s/d 28 kg/m2, 40% pada mereka yang memiliki IMT 30, dan sangat umum ditemukan pada mereka yang memiliki BMI 40 (Partaluppi, 1997). Karena ada hubungan yang erat  antara OSA dengan berat badan yang berlebih, bermacam kelainan metabolik, diantaranya obesitas abdominal, diabetes, dan dislipidemia juga lebih sering ditemukan pada mereka yang memiliki OSA. Walau demikian studi lainnya menemukan bahwa 30% pasien dengan OSA tidak memiliki berat badan berlebih. Faktor lain yang dapat memiliki pengaruh adalah lingkar leher yang lebar, rongga mulut yang kecil / rendah, tenggorokan yang sempit, ovula yang besar, rahang yang kecil (mikrognatia) atau mundur (retrognathia) dapat mengakibatkan OSA lebih rentan terjadi.

Perubahan Pola Hidup Terdapat banyak hal yang bisa anda lakukan, terutama jika anda memiliko OSA yang ringan – sedang. Beberapa perubahan pola hidup dapat membantu mengurangi gejala OSA, hal tersebut antara lain :

Kurangi berat badan dan makanlah makanan yang sehat. Seperti yang saya bahas diatas, OSA lebih umum ditemukan pada mereka yang memiliki berat badan berlebih dan pada beberapa kasus gejala OSA dapat menghilang dengan tercapainya berat badan ideal. Beberapa studi juga telah menghubungkan OSA dengan meningkatnya asupan karbohidrat. Kurangnya kualitas tidur dan rasa lelah yang timbul ternyata dapat mengakibatkan perubahan regulasi leptin & ghrelin yang dapat memicu timbulnya rasa lapar, karenanya menjadi penting untuk mengkonsumsi makanan yang tepat dalam jumlah yang cukup.

Berhenti Merokok, rokok memiliki banyak dampak buruk dan salah satunya adalah meningkatkan inflamasi dan retensi cairan di tenggorokan dan jalan nafas bagian atas. Jangan mengkonsumsi alkohol, obat tidur atau obat penenang karena penggunaan obat-obatan ini dapat melemahkan otot tenggorokan dan meningkatkan kemungkinan timbulnya OSA.

Hindari penggunaan kafein atau makanan berat setidaknya 2 jam sebelum tidur karena hal ini dapat meningkatkan respon simpatis dan memperberat gejala OSA.

Pertahankan pola tidur yang cukup dan teratur. Mengorok lebih mungkin timbul pada derajat tidur yang dalam dan hal ini umum terjadi sebagai kompensasi jika seseorang kurang tidur. Memiliki pola tidur yang cukup dan teratur dapat membantu anda untuk lebih santai dan tidur lebih baik sehingga episode apnea yang timbul dapat berkurang.

Perubahan Cara Tidur.Hindari tidur terlentang karena gravitasi dapat mengakibatkan pangkal lidah dan jaringan lunak disekitarnya untuk jatuh dan menghalangi jalan nafas.Tennis-ball-trick. Untuk mencegah agar posisi tidur anda tidak kembali terlentang, bola tenis dapat dimasukkan dan dijahitkan kedalam sebuah kantong dibelakang punggung, atau pasang bantal yang agak tinggi di punggung anda.

Lancarkan rongga hidung dengan menyemprotkan larutan NaCl atau nasal dilator.

Terapi Definitif Hingga saat ini telah terdapat berbagai penelitian yang meneliti dampak berbagai macam obat-obatan yang diduga dapat membantu pengobatan OSA, namun tidak satupun yang terbukti efektif. Jika anda memiliki derajat OSA yang berat, semua cara diatas bisa jadi tidak banyak membantu, pada keadaan seperti itu obstruksi dapat dihilangkan dengan memberikan tekanan positif saat anda tidur.

Continuous positive airway pressure(CPAP) secara akut menghilangkan OSA, menghilangkan tekanan negatif dalam dada, mengurangi tekanan darah, serta detak jantung cepat pada penderita OSA, semua hal tersebut dapat membantu mengurangi afterload / beban kerja jantung. Pengurangan beban kerja jantung ini diikuti dengan perbaikan metabolisme oksidatif otot jantung. Hal ini tentunya memiliki dampak yang sangat baik terhadap jantung apalagi mereka yang memiliki sakit jantung. Sayangnya terapi ini bisa dikatakan tidak nyaman karena anda diharuskan untuk mengenakan sebuah masker yang menutupi hidung dan mulut anda. Tekanan positif yang diberikan harus disesuaikan dengan derajat obstruksi yang anda alami, jika terlalu rendah maka obstruksi tetap dapat terjadi, jika terlalu tinggi anda dapat merasa tidak nyaman dan jika dibiarkan dapat terjadi kerusakan faal paru (barotrauma) yang justru berbahaya. Karenanya peresepan terapi ini hanya dapat dibuat setelah diagnosa OSA tegak dan data tekanan CPAP yang sesuai berhasil diperoleh melalui pemeriksaan polisomnografi / studi tidur.

Sebagai kesimpulan jika anda merasa atau pasangan anda memiliki keluhan mengorok dan memiliki beberapa gejala seperti yang saya sebutkan diatas, jangan dibiarkan karena kelainan ini dapat menimbulkan berbagai macam penyakit berbahaya yang dapat mengakibatkan kematian. Jika cara diatas tidak membantu jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anda dan mencari solusinya agar masalah anda tidak bertambah besar dikemudian hari.

Tags: , , , ,


About the Author



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top ↑

UA-88795366-1