Kesehatan THT

Published on October 1st, 2016 | by khaeruddin

0

Epistaksis

Epistaksis atau perdarahan pada hidung atau dengan istilah mimisan) adalah perdarahan akut  dari rongga hidung, sinus paranasal atau nasofaring. Epistaksis ini sering ditemukan sehari-hari dan  masalah yang sangat lazim, meskipun hampir 90% dapat berhenti sendiri. Perdarahan tiba-tiba dari rongga hidung 90% berasal dari daerah anteroinferior septum nasi yang disebut daerah plexus Kiesselbach. Dan 10% berasal dari bagian posterior rongga hidung dan lebih sulit diatasi. Epistaksisi merupakan gejala atau manifestasi dari penyakit lain. Kebanyakan ringan dan sering dapat berhenti sendiri tanpa pertolongan medis, tetapi epistaksis yang sulit dan berat, walaupun jarang, merupakan masalah kedaruratan yang dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani.

Patogenesis

Kejadian epistaksis terjadi spontan dan tiba tanpa diketahui penyebabnya. Epistaksis terjadi  oleh kelainan lokal pada hidung atau kelainan sistemik. Kondisi local sering akibat trauma, anatomi hidung dan penyakit akibat gangguan pembuluh darah. Corpus alienum atau benda asing, tumor, local infeksi dan kondisi udara juga bisa menjadi penyebab epistaksis., kelainan hormonal dan kelainan kongenital

Manifestasi klinis

Sering sekali Pasien sering mengeluhakn bahwa sumber perdarahan dari hidung depan dan belakang sampai keluar dari  mulut.

Pemeriksaan fisik

  • Pasien dengan epistaksis diperiksa dalam posisi duduk, biarkan darah mengalir keluar dari hidung sehingga bisa Jika keadaannya lemah sebaiknya setengah duduk atau berbaring dengan kepala ditinggikan. Harus diperhatikan jangan sampai darah mengalir ke saluran napas bawah.
  • Pasien anak duduk dipangku, badan dan tangan dipeluk, kepala dipegangi agar tegak dan tidak bergerak-gerak.
  • Dengan spekulum hidung dibuka dan dengan alat pengisap dibersihkan semua kotoran dalam hidung baik cairan, sekret maupun darah yang sudah membeku.
  • Sesudah dibersihkan semua lapangan dalam hidung diobservasi untuk mencari tempat dan faktor-faktor penyebab perdarahan.

Pemeriksaan laboratorium

  • Darah lengkap
  • Hemostatis
  • Fungsi hepar dan ginjal
  • Gula darah (atas indikasi)

Pemeriksaan Penunjang

  • Nasoendoskop
  • Foto rontgen polos sinus paranasal (atas indikasi)
  • Tomografi komputer (atas indikasi)

Penyulit

  • Hipertensi
  • Kelainan darah
  • Obstruksi jalan napas

 Tatalaksana

  • Prinsip penatalaksanaan epistaksis ialah perbaiki keadaan umum, cari sumber perdarahan, hentikan perdarahan, cari faktor penyebab untuk mencegah berulangnya perdarahan. Bila pasien datang dengan epistaksis, perhatikan keadaan umumnya, nadi, pernapasan serta tekanan darahnya.
  • Bila ada kelainan, atasi terlebih dulu misalnya dengan memasang infus. Jalan napas dapat tersumbat oleh darah atau bekuan darah, perlu dibersihkan atau dihisap.
  • Setelah hidung dibersihkan, dimasukkan kapas yang dibasahi dengan larutan anestesi lokal yaitu larutan pantokain 2% atau larutan lidokain 2% yang ditetesi larutan adrenalin 1/5000-1/10.000 ke dalam hidung untuk menghilangkan rasa sakit dan membuat vasokontriksi pembuluh darah sehingga perdarahan dapat berhenti untuk sementara.
  • Sesudah 10 sampai 15 menit kapas dalam hidung dikeluarkan dan dilakukan evaluasi. Setelah terjadi vasokonstriksi biasanya dapat dilihat apakah perdarahan berasal dari bagian anterior atau posterior hidung.

Perdarahan anterior

  • Perdarahan anterior seringkali berasal dari pleksus Kisselbach di septum bagian depan. Apabila tidak berhenti dengan sendirinya, perdarahan anterior, terutama pada anak, dapat dicoba dihentikan dengan menekan hidung dari luar selama 10-15 menit.
  • Bila sumber perdarahan dapat terlihat, tempat asal perdarahan dikaustik dengan larutan Nitras Argenti (AgNO3) 25-30%. Sesudahnya area tersebut diberi krim antibiotik. Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung, maka perlu dilakukan pemasangan tampon anterior yang dibuat dari kapas atau kasa yang diberi pelumas vaselin atau salep antibiotik. Pemakaian pelumas ini agar tampon mudah dimasukkan dan tidak menimbulkan perdarahan baru saat dimasukkan atau dicabut. Tampon dimasukkan sebanyak 2-4 buah, disusun dengan teratur dan harus dapat menekan asal perdarahan.
  • Tampon dipertahankan selama 2 x 24 jam, harus dikeluarkan untuk mencegah infeksi hidung. Bila perdarahan masih belum berhenti, dipasang tampon baru.

Perdarahan posterior

  • Untuk menanggulangi perdarahan posterior dilakukan pemasangan tampon posterior, yang disebut tampon Bellocq. Tampon ini dibuat dari kasa padat dibentuk kubus atau bulat dengan diameter 3 cm. pada tampon ini terikat 3 utas benang, 2 buah di satu sisi dan sebuah di sisi berlawanan.
  • Untuk memasang tampon posterior pada perdarahan satu sisi, digunakan bantuan kateter karet yang dimasukkan dari lubang hidung sampai tampak di orofaring, lalu ditarik keluar dari mulut. Pada ujung kateter ini diikatkan 2 benang tampon Bellocq tadi, kemudian kateter ditarik kembali melalui hidung sampai benang keluar dan dapat ditarik. Tampon perlu didorong dengan bantuan jari telunjuk untuk dapat melewati palatum mole masuk ke nasofaring.
  • Bila masih ada perdarahan, maka dapat ditambah tampon anterior ke dalam kavum nasi. Kedua benang yang keluar dari hidung diikat pada sebuah gulungan kain kasa di depan nares anterior, supaya tampon yang terletak di nasofaring tetap di tempatnya. Benang lain yang keluar dari mulut diikatkan secara longgar pada pipi pasien. Gunanya ialah untuk menarik tampon keluar melalui mulut setelah 2-3 hari.
  • Bila perdarahan berat dari kedua sisi, digunakan bantuan dua kateter masing-masing melalui kavum nasi kanan dan kiri, dan tampon posterior terpasang di tengah-tengah nasofaring.

Medikamentosa

Selama pemasangan tampon (2-3 hari), kenyamanan pasien akan terganggu dan untuk itu perlu pemberian analgetik untuk mengontrol rasa nyeri. Diperlukan pemberian antibiotik broad spektrum untuk mencegah terjadinya infeksi akibat kuman patogen selama pemasangan tampon.

 Informed consent

Harus tertulis apabila memerlukan tindakan pemasangan atau pelepasan tampon Bellocq dalam narkose.

 Lama perawatan

Tergantung faktor penyebab dan penyulit yang menimbulkan perdarahan.

Output

Baik.

 Tindakan bedah

Eksplorasi sumber perdarahan secara endoskopik dalam narkose umum dengan didahului ligasi arteri karotis (bila diperlukan).

 Pencegahan dan pendidikan

Edukasi jika terjadi perdarahan berulang dan pencegahan agar tidak terjadi perdarahan berulang, seperti jangan mengorek hidung, dan mengontrol faktor penyebab, seperti hipertensi dengan cara kontrol dan berobat teratur. Apabila terpasang tampon hidung jangan lupa untuk kontrol dalam waktu 48 jam berikutnya untuk pelepasan tampon hidung dan tatalaksana selanjutnya.ditambah cara menghentikan perdarahan

Tags: ,


About the Author



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top ↑

UA-88795366-1