Kesehatan THT

Published on October 1st, 2016 | by khaeruddin

0

Rinitis alergi

Rinitis alergi adalah penyakit simtomatis  pada hidung akibat proses inflamasi yang diperantarai IgE, terjadi setelah mukosa hidung terpajan oleh alergen. Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas atas yang sering dijumpai, prevalensi mencapai 40% dari populasi umum. Gejala-gejala rinitis alergi dapat berdampak buruk terhadap kualitas hidup penderita. Baku emas diagnosis adalah dengan tes cukit/tusuk kulit. Tatalaksana merupakan kombinasi dari penghindaran alergen, farmakoterapi, imunoterapi dan edukasi.

Patogenesis

Pada tahap sensitisasi, alergen yang menempel di mukosa hidung akan ditangkap oleh makrofag/monosit (Antigen Presenting Cells), yang kemudian mempresentasikan ke sel limfosit Th. Sel Th akan mensekresi sitokin (interleukin 4, IFN dan TNF) yang akan mensignal sel limfosit B untuk memproduksi IgE. IgE kemudian akan berikatan dengan reseptor yg ada di dinding sel mast/basofil. Pada pajanan berikutnya, tahap provokasi,  alergen yang masuk akan diikat oleh 2 rantai pendek IgE, sehingga sel mast terkativasi dan terjadilah proses degranulasi yaitu pecahnya dinding sel mast/basofil yang diikuit  pelepasan mediator kimia (histamin dan lainnya). Histamin akan menyebabkan terjadinya reaksi alergi fase cepat dan fase lambat yang menimbulkan gejala bersin berulang, hidung beringus cair, gatal, dan tersumbat.

Manifestasi klinis

  • Anamnesis

Pada anamnesis ditanyakan gejala utama berupa bersin berulang, hidung berair, hidung tersumbat dan hidung gatal. Dapat juga ditanyakan gejala lain seperti gejala mata (mata merah, gatal dan berair), batuk, gangguan konsentrasi, dan gangguan tidur.

  • Pemeriksaan fisik

Pada anak sering ditemukan tanda khas berupa bayangan gelap di daerah bawah mata (allergic shiner), menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan (allergic salute) dan gambaran garis melintang di dorsum hidung (allergic crease). Rinoskopi anterior memperlihatkan gambaran khas seperti mukosa hidung edema, berwarna pucat atau livid, disertai sekret encer banyak. Dapat ditemukan juga konka inferior yang hipertrofi.

Pemeriksaan penunjang

  • Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan jumlah eosinofil darah tepi dapat dilakukan, dengan hasil jumlah normal atau meningkat.

Pemeriksaan kadar IgE spesifik dengan cara ELISA (enzyme linked immuno sorbent assay test) atau RAST (radio immuno sorbent test) sangat bermakna untuk diagnosis pada pasien yang tidak dapat menjalani tes cukit/tusuk kulit.

Pemeriksaan jumlah eosinofil sekret hidung dilakukan atas indikasi.

  • Pemeriksaan nasoendoskopi

Dilakukan untuk evaluasi kompleks osteomeatal dalam menilai adanya rinosinusitis dan polip hidung atas indikasi.

 Tes kulit alergi

Dengan menggunakan bahan/vaksin dan alat yang terstandarisasi, tes cukit/tusuk kulit merupakan baku emas diagnosis rinitis alergi di klinik dan skrining.

Apabila menggunakan bahan/vaksin yang tidak terstandarisasi, dapat diteruskan dengan tes intradermal bila tes cukit/tusuk kulit negatif.

Pada tes kulit alergi harus diwaspadai terjadinya komplikasi berupa syok anafilaktik.

Kriteria  diagnosis

Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan ananmnesis, pemeriksaan fisik dan korelasi dengan hasil tes kulit alergi, dan diklasifikasikan menjadi:

  • Rinitis alergi intermiten ringan
  • Rinitis alergi intermiten sedang-berat
  • Rinitis alergi persisten ringan
  • Rinitis alergi persisten sedang-berat

Diagnosis banding

Rinitis non alergi non infeksi (rinitis vasomotor, rinitis hormonal, rinitis pada usia lanjut, non allergic rhinitis eosinophilic syndrome).

Tata laksana

Farmakoterapi

Obat pilihan berupa kortikosteroid intranasal, antihistamin generasi kedua, antihistamin kombinasi dekongestan, antikolinergik dan kromolin. Obat diberikan berdasarkan dari klasifikasi diagnosis rinitis alergi (sesuai algoritma WHO-ARIA 2008). Obat diberikan jangka panjang 2-4 minggu, kemudian dievaluasi ulang ada/tidak adanya respon, dan selanjutnya diberikan terapi sesuai dengan hasil evaluasi.

Penghindaran alergen

Bersamaan dengan pemberian obat, pasien diedukasi untuk menghindari atau mengurangi jumlah alergen pemicu di lingkungan sekitar.

Imunoterapi

Apabila tidak terdapat perbaikan dengan farmakoterapi dan penghindaran alergen yang optimal, maka dipertimbangkan untuk pemberian imunoterapi secara subkutan atau sublingual (dengan berbagai pertimbangan khusus).

Edukasi

Kombinasi modalitas di atas hanya dapat terlaksana dengan baik apabila dilakukan edukasi yang baik dan cermat kepada pasien.

Ko-morbiditas/komplikasi

Rinitis alergi yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan timbulnya rinosinusitis, polip hidung, dan otitis media efusi. Rinitis alergi sering ditemukan bersamaan dengan hipertrofi adenoid dan tonsil, asma bronkial dan dermatitis alergi.

 Output

Penilaian keberhasilan tatalaksana ditentukan berdasarkan adanya perbaikan kualitas hidup dengan hilangnya/terkontrolnya gejala, serta perbaikan gambaran klinis objektif.

 

 

Tags:


About the Author



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top ↑

UA-88795366-1